GUNUNGKIDUL – Desa Nglindur, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, membuktikan bahwa tantangan geografis berupa tanah berbatu karst bukanlah penghalang, melainkan fondasi untuk meraih kemenangan. Pada momentum Hari Desa Nasional 2026, Nglindur menorehkan kisah inspiratif tentang bagaimana harapan dapat tumbuh di tengah keterbatasan, mengubah paradigma bahwa kemakmuran bisa bersemi di mana saja selama ada gerak bersama. Bagi sebagian wilayah, tanah berbatu mungkin dianggap sebagai kesulitan yang menghambat pertanian. Namun, di Nglindur, masyarakat telah belajar beradaptasi dan berinovasi. Mereka tidak hanya menanam padi, tetapi lebih dari itu, mereka menanam harapan dan optimisme di atas lanskap karst yang unik. Semangat gotong royong dan kerukunan warga menjadi kunci utama dalam membangun desa ini. Kehadiran Jalur Lintas Selatan (JLS) juga menjadi katalisator perubahan signifikan bagi Nglindur. Desa yang sebelumnya mungkin hanya dikenal sebagai jalur perlintasan, kini menjelma menjadi gerbang masa depan yang menjanjikan. Aksesibilitas yang lebih baik membuka potensi ekonomi, pariwisata, serta konektivitas yang lebih luas bagi warga. Nglindur merefleksikan potret desa-desa di DIY yang terus berjuang dan berinovasi. Dari semangat kolektif warga yang menjaga tradisi gotong royong, hingga senyum dan mimpi anak-anak sekolah yang menggantungkan cita-cita setinggi bukit-bukit di sekitar mereka, Nglindur adalah cerminan bahwa kemajuan desa adalah pondasi kemajuan bangsa. Melalui momentum Hari Desa Nasional 2026, Nglindur mengirimkan salam dari desa untuk Indonesia yang jaya, dengan keyakinan kuat bahwa “Bangun Desa, Bangun Indonesia. Desa Terdepan untuk Indonesia.”